BERITA
PERJUMPAAN DENGAN LIDYA YANG MENGUBAH
21-10-2020
Oleh : Aldebertha Alfionic Jihan Marcelita (Kelas VII B)
Di masa pandemi covid-19 ini, Dina dan Lydia belajar dari rumah. Dalam salah satu mata pelajaran, mereka diberi tugas oleh Pak Bertus melalui WA. Dina selalu telat mengerjakan tugas karena dia lebih sering bermain dengan gadget mewahnya, sedangkan tugas-tugasnya dikerjakan oleh guru les privatnya. Dina dimanjakan dengan kemudahan yang diberikan orangtuanya yang kaya. Berbeda dengan temannya, Lydia yang berasal dari keluarga sangat sederhana. Namun Ia rajin mengerjakan tugas dan selalu mengumpulkannya tepat waktu. Lidya hanya punya gadget yang biasa, apalagi guru les privat Ia tak punya. Meski demikian, dalam kesederhanaanya Lydia menjadi mandiri dan bersemangat dalam belajar.
Jarak rumah Dina dan Lydia dekat hanya sekitar 30 meter. Suatu hari, Lydia berkunjung ke rumah Dina bermaksud untuk mengerjakan tugas sekolah bersama. Lydia tetap mempratikkan protokol kesehatan, yakni memakai masker dan mencuci tangan. Setibanya di rumah Dina, Lydia mengetuk pintu. Dina membuka pintu dan berkata, “Kenapa kamu ke sini?” Dengan senang hati Lydia menjawab, “Hai, Dina aku mau ajak kamu belajar bareng.” Namun Dina menjawab dengan ketusnya, “Ha? Belajar bareng? Sama kamu? Nggak maulah, masa aku belajar sama kamu yang bau, HP butut, nggak level banget!” Dengan tetap rendah hati Lydia menjawab, “Ya sudah kalau kamu tidak mau belajar bersama, maka lebih baik aku pulang saja.” “Ya! Sana pulang saja dan jangan datang kesini lagi!” jawab Dina kasar.
Sesampainya di rumah, Lydia menyimak pengumuman dari Pak Bertus bahwa akan diadakan seleksi Lomba Matematika untuk tingkat Kabupaten. Seleksi akan diadakan dari rumah. “Wah ada seleksi Lomba Matematika, aku ingin mengikuti seleksi ini!,” ekspresi Lydia begitu gembira. Begitu pula dengan Dina, Ia juga mengetahui pengumuman seleksi Lomba Matematika tingkat Kabupaten tersebut. Dina berkata pada dirinya sendiri, “Eh ada seleksi Lomba Matematika tingkat Kabupaten, apa aku ikut aja ya? Mumpung ada kesempatan buat aku ikut lomba. Tapi kan aku tidak bisa Matematika nanti kalau tidak kepilih gimana ya? Ohh… aku tahu! Mending aku pakai cara curang saja. Waktu seleksi aku cari jawabannya di internet saja ya. Okelah aku akan ikut seleksi ini, lagi pula seleksinya juga dari rumah.”
Dina, Lydia, dan beberapa murid lainnya mengikuti seleksi ini. Mereka yang mengikuti seleksi sudah siap semua pada waktu yang sudah ditentukan. Namun ternyata Dina belum mandi dan masih bermalas-malasan. Dina berkata pada dirinya, “Yah, kok sudah jam segini. Oh iya, ini kan hari seleksi Lomba Matematika, kok aku malah belum mandi sih?! Eh, tidak apa-apa deh, tidak usah mandi lagipula kan Pak Guru tidak tahu kalau aku sudah mandi atau belum. Yang penting aku sudah bisa mengikuti seleksi ini. Ya sudah, aku mau ganti baju seragam saja.” Dina tidak pernah belajar karena asyik bermain dengan gadget canggihnya dan selalu menyerahkan tugasnya pada guru les privatnya. Sedangkan Lydia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri dengan belajar, baik mengulang-ulang materi dan mengerjakan tugas secara mandiri. Setelah Pak Bertus memberikan soal seleksi, Lydia dan peserta lainnya mengerjakan dengan jujur sampai selesai, sedangkan Dina mengerjakan soal dengan sangat tidak jujur. Dina mengerjakan soal dengan mencontek jawaban di internet dan juga bertanya jawaban soal ke guru les privatnya. Hal tersebut membuat Dina tidak selesai mengerjakan soal karena waktunya habis untuk mencari jawaban di internet dan bertanya pada guru les privatnya.
Setelah semua hasil seleksi dikumpulkan, mereka menunggu pengumuman dari Pak Bertus tentang siapa yang akan terpilih untuk mengikuti Lomba Matematika di tingkat Kabupaten. Dan ternyata yang terpilih adalah Lydia. Lydia sangat bersyukur karena dia bisa terpilih lagi untuk mewakili sekolahnya mengikuti Lomba Matematika di tingkat Kabupaten. Sementara itu Dina dengan penuh rasa tidak percaya berkata pada dirinya, “Kok Lydia lagi sih yang terpilih?! Kan kemarin waktu seleksi aku sudah tanya jawaban sama guru les privatku. Aku juga sudah cari jawaban di internet, tapi kok bisa ya Lydia lagi yang kepilih?!” Dengan kesal, Dina menyalahkan guru les privatnya karena guru les privatnya tidak memberikan jawaban yang benar.
Beberapa hari kemudian, Lydia dan Dina bersepeda di sekitar daerah rumah mereka. Pada saat itu Lydia dan Dina berjumpa tanpa sengaja. Lalu Lydia menyapa Dina dengan ramah, “Hai, Dina.” Dina menjawab dengan sinis, “Eh, Lydia selamat ya bisa maju Lomba Matematika lagi.” Lydia menjawab, “Iya terima kasih ya, Din.” Setelah itu, Dina langsung pergi meninggalkan Lydia. Karena Dina kurang berhati-hati, Dina terjatuh dari sepedanya. Kebetulan Lydia melihat Dina terjatuh dan dengan sigap Lydia langsung menghampiri dan menolong Dina. Lydia berkata, “Din, aku antar kamu pulang ke rumahmu yuk!” Dina menjawab, “Iya, tolongin aku Lid, antar aku sampai rumah ya! Tolong ya, Lydia!”
Setelah sampai di rumahnya Dina pun berkata, “Terima kasih ya, Lydia sudah mengantarkan aku sampai ke rumah. Kalau tidak ada kamu, entah siapa yang akan menolong aku tadi.” Dengan rendah hati Lydia menjawab, ”Iya, Din sama-sama. Lain kali kalau main sepeda lebih hati-hati ya!” Dina menjawab, “Iya, Lydia. Terima kasih sudah mengingatkan.”
“Lydia, aku minta maaf ya. Selama ini aku sudah bersikap tidah baik kepada kamu.“, ungkap Dina melalui WA ke Lydia. Lydia membalas, “Iya, Din aku maafkan. Ayo ke rumahku, sekarang kita bisa belajar bareng untuk persiapan Ulangan besok.” WA Dina selanjutnya kepada Lydia. “Iya, Lid. Aku akan ke rumahmu untuk belajar bersama, lebih-lebih kamu mengajari aku Matematika ya?” “Oke! Tetap menjalankan protokol kesehatan ya, Din!”, pesan Lydia.
Setelah Dina sampai di rumah Lydia, Ia disambut baik oleh Lydia sekeluarga. Lalu mereka berdua belajar Matematika bersama. Lydia mengajari Dina dengan sabar, sehingga membuat hati Dina menjadi luluh. Semenjak peristiwa itu, Dina dan Lydia menjalin persahabatan yang baik. Dalam hatinya Dina berkata, “Mulai saat ini, aku ingin semangat dan mandiri dalam belajar. Aku tidak akan bermalas-malasan, hanya bermain gadget dan bergantung pada guru les privatku. Sungguh, perjumpaan dengan Lydia mengubahku.”
Catatan : Cerpen ini terpilih sebagai Juara II dalam Lomba Cipta Cerpen - Kegiatan Jeda Tengah Semester I SMP Marganingsih.
kembali
Catatan : Cerpen ini terpilih sebagai Juara II dalam Lomba Cipta Cerpen - Kegiatan Jeda Tengah Semester I SMP Marganingsih.
- Gema Nada Marga Ukir Prestasi Gemilang dalam Lomba Marching Band di SMA Negeri 1 Dukun
- “Marilah Sekarang Kita Pergi ke Betlehem”.
- Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya
- Refleksi Peran Guru Sebagai Coach di Sekolah dan Keterkaitannya dengan Materi Pendidikan Guru Penggerak
- “BERBEDA ITU MENYENANGKAN”
- “Bersama Pancasila Kita Wujudkan Indonesia Emas”
- PRIBADIKU DIBENTUK OLEH TUHAN
- BERSUKACITA DALAM TUHAN
- "Orang Benar Hidup Oleh Percaya Habakuk".
- “ALLAH SUMBER PENGHARAPAN”